Aku melihat ke sekitar, dan semua orang tampak berlari. Aku? Aku masih di sini, berjalan, pelan, bahkan sering terhenti. Ada rasa seperti ingin bertanya, why am i so slow? Tapi aku tahu, perjalanan setiap orang itu beda. Mungkin mereka berlari di jalan lurus, sementara aku sedang mendaki gunung yag penuh bebatuan. It's hard, really. Melihat orang lain sudah jauh di depan, sementara aku masih mencoba memahami langkahku sendiri. Tapi apa salahnya berjalan lambat? Apa salahnya berhenti sejenak untuk menghela nafas? Slow progress is still progrss kan? Dan siapa tahu, mungkin aku akan sampai di tujuan yang lebih yaitu tempat yang memang tuhan siapkan khusus untukku. Jadi, buat kamu yang merasa seperti aku, kita tidak perlu terlalu keras pada diri sndiri. Everyone has their own timing. Kamu tidak terlambat. You're just on a different path. Keep walking, even if it's slow. Because ev...
Sebanyak itu yang ternyata hal-hal yang kita maklumi diam-diam, seolah jadi kebiasaan. Kita biarkan hal menyakitkan lewat begitu saja tanpa banyak suara. Kita diam, bukan karena tak merasa, tapi karena terlalu sering mengalah sampai lupa rasanya benar-benar di dengarkan. Ada banyak luka yang kita bungkus rapi hanya karena ingin menjaga orang lain tetap nyaman, padahal kita sendiri sedang retak-retaknya, and the saddest part is... all of that. Semua yang sudah kita tahan, mereka bahkan tidak tahu. Not even a clue. Seolah rasa sabar kita seakan tak terlihat, seolah rasa sakit kita terlalu ringan untuk dianggap. Aku mengerti rasanya jadi seseorang yang banyak paham tapi jarang dipahami, yang menenangkan tapi jarang ditenangkan, yang mengerti tanpa diminta, tapi menunggu dimengerti seolah menunggu musim yang tak kunjung datang, dan kita tetap bertahan. Berharap ada waktu dimana semua k...